Skip to content
Zenga News

Israel memperluas pengusiran di Tepi Barat yang diduduki saat pengungsian di Hebron melampaui 3.000 orang

Lebih dari 3.000 warga Palestina telah terpaksa meninggalkan rumah mereka di Hebron sejak Jumat, kata para pejabat, saat militer Israel memperluas operasi militer di Tepi Barat yang diduduki.

Onur Irmako
Zenga News Desk Timur Tengah · Disunting oleh Onur Irmako · Diperbarui · 2 menit baca
File photo: The picture shows an old house in the Old City of Hebron. It is inhabited by a palestinian family and is one of the houses of lower height. This picture was taken in 29.Jun. 2019
File photo: The picture shows an old house in the Old City of Hebron. It is inhabited by a palestinian family and is one of the houses of lower height. This picture was taken in 29.Jun. 2019 Foto: Morjana Jalal / Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0

HEBRON, Tepi Barat yang diduduki — Lebih dari 3.000 warga Palestina telah terpaksa meninggalkan rumah mereka di Hebron sejak Jumat, kata para pejabat setempat pada Senin, saat militer Israel memperluas operasi militer di kota itu dan wilayah sekitarnya.

Gubernur Hebron Khaled Dudin mengatakan 488 keluarga, yang terdiri atas 3.171 orang, telah mengungsi di seluruh wilayah provinsi. Wali Kota Yousef al-Jabari mengatakan kepada Al Jazeera bahwa 3.043 orang di antaranya berasal dari dalam batas kota.

Dari lokasi, di media sosial

Menurut otoritas kota Hebron, sebagian besar pengungsi adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Al Jazeera melaporkan bahwa Israel telah memberlakukan pengepungan di seluruh kota. Lembaga Tahanan Palestina menyebut sedikitnya 71 orang ditahan selama empat hari terakhir.

Pembongkaran dan penggunaan militer atas rumah-rumah

Al Jazeera melaporkan bahwa militer Israel juga melakukan pembongkaran yang telah menghancurkan bangunan tempat tinggal, pabrik, dan jalan. Media itu menyebut tentara memblokir jalan, menggerebek rumah, dan menyerang warga Palestina. Keterangan ini berasal dari Al Jazeera dan pejabat Palestina. Pernyataan militer Israel mengenai tindakannya tidak termuat dalam bahan yang tersedia.

Media tersebut juga melaporkan bahwa tentara telah mengubah puluhan rumah milik keluarga pengungsi menjadi barak militer dan pusat interogasi lapangan.

Noman Amr, profesor sejarah kontemporer di Universitas Terbuka al-Quds di Hebron, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa evakuasi tersebut terbagi dalam tiga kategori: untuk pembongkaran, untuk balas dendam dan hukuman kolektif, serta untuk penggunaan militer. Ia mengatakan langkah-langkah itu "telah melampaui gagasan evakuasi atau deportasi sementara".

Tujuan utamanya, kata Amr, adalah "untuk memaksakan realitas baru." — Noman Amr, profesor sejarah kontemporer, Universitas Terbuka al-Quds

Pernyataan pejabat Israel

Operasi tersebut dimulai pada Jumat, ketika dua tentara Israel tewas dalam penembakan di dekat Hebron, menurut Al Jazeera. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membenarkan operasi itu dengan berjanji melakukan tindakan yang "belum pernah terlihat" sejak perang 1967.

Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan bermaksud menerapkan "model kamp Jenin" di Hebron, lapor Al Jazeera. Media itu menyebut model tersebut mencakup evakuasi paksa penduduk, pemeriksaan rumah, penyitaan senjata, dan peratakan jalan dengan buldoser.

Aktivitas pemukim

Dalam unggahan terpisah di Telegram, Quds News Network menyebut pemukim Israel telah merampas tanah milik warga Palestina di kota Beit Kahel, sebelah barat laut Hebron. Klaim ini berasal dari unggahan media sosial dan belum dikonfirmasi secara independen.

Al Jazeera menyebut serangan terhadap pemanen zaitun sering terjadi di seluruh Tepi Barat. Media itu mengaitkan meningkatnya ketegangan dengan pemilihan umum Israel pada Selasa, saat Netanyahu mencalonkan diri kembali.

Latar belakang

Kelompok-kelompok HAM telah membandingkan operasi Hebron dengan operasi "Tembok Besi" di kamp pengungsi Jenin, Nur Shams, dan Tulkarem pada awal 2025. Menurut Al Jazeera, operasi tersebut menewaskan sedikitnya 102 orang, membuat lebih dari 33.000 orang mengungsi, dan menghancurkan lebih dari separuh bangunan tempat tinggal di kamp-kamp tersebut.

Al Jazeera menyebut Katz sebelumnya menggambarkan taktik yang digunakan di Jenin sebagai "pelajaran pertama dari metode serbuan berulang di Gaza". Media itu melaporkan bahwa perang di Gaza, yang kini memasuki tahun ketiga, telah menewaskan lebih dari 74.000 orang. Media itu tidak memberikan sumber atau tanggal untuk angka tersebut dalam bahan yang ditinjau.

Pakar hak asasi manusia yang dikutip Al Jazeera menggambarkan operasi Hebron sebagai upaya untuk memindahkan penduduk Palestina secara permanen. Pejabat Israel membingkainya sebagai tanggapan atas tewasnya dua tentara tersebut.

Perkembangan berita

  1. 25 Oktober 2026Menteri Pertahanan Israel: 2.000 warga Palestina mengungsi akibat operasi di Hebron
  2. 27 Oktober 2026Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di Tepi Barat dan genosida di Gaza berlanjut
  3. 27 Oktober 2026Israel memperluas pengusiran di Tepi Barat yang diduduki saat pengungsian di Hebron melampaui 3.000 orang
  4. 27 Oktober 2026Satu orang tewas dalam serangan Israel terhadap tenda pengungsi di Gaza, sumber medis menyebutkan

Sumber

Laporan ini ditulis dari sumber di bawah dan diperiksa dengan sedikitnya dua di antaranya.

AIDisusun dengan bantuan AI dari sumber di bawah.Cara kami menggunakan AI

Menemukan kesalahan?

Liputan terkait