Skip to content
Zenga News

Suriah membantah mengirim pasukan ke Yaman saat analis menimbang bentuk dukungan lain bagi Arab Saudi

Damaskus membantah rencana mengerahkan pejuang melawan kelompok Houthi di Yaman. Para analis kepada The New Arab mengatakan bantuan bagi Arab Saudi bisa berbentuk lain, sementara Mesir membahas dukungan militernya sendiri.

Onur Irmako
Zenga News Desk Timur Tengah · Disunting oleh Onur Irmako · Diperbarui · 4 menit baca
File photo: Riyadh North Skyline dipcting famous landmarks like Kingdom tower, Majdoul Tower and KAFD (King Abdullah Financial District).
File photo: Riyadh North Skyline dipcting famous landmarks like Kingdom tower, Majdoul Tower and KAFD (King Abdullah Financial District). Foto: B.alotaby / Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0

DAMASKUS — Suriah telah membantah rencana mengirim pasukan ke Yaman, tetapi laporan tentang kemungkinan pengerahan melawan kelompok Houthi terus beredar, dan para analis mengatakan Damaskus tetap dapat mendukung Arab Saudi dengan cara lain, demikian dilaporkan The New Arab pada 26 Oktober 2026.

Para analis yang berbicara kepada media tersebut menyatakan bahwa pengerahan pasukan Suriah di Yaman kecil kemungkinannya mengingat tantangan keamanan dalam negeri Suriah sendiri. Mereka menyarankan dukungan militer apa pun bagi Riyadh dapat berbentuk yang tidak melibatkan pasukan di wilayah Yaman.

Dari lokasi, di media sosial

Laporan Al-Akhbar

Laporan-laporan tersebut berawal dari surat kabar Lebanon Al-Akhbar. Mengutip sumber intelijen Yaman yang tidak disebutkan namanya, surat kabar itu menyatakan Riyadh dan Damaskus telah berunding tentang pemindahan hingga 10.000 pejuang Suriah ke Yaman. The New Arab menyatakan tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.

Menurut surat kabar itu, delegasi militer Suriah baru-baru ini mengunjungi ibu kota Saudi dan wilayah selatan kerajaan untuk menilai rencana pengerahan tersebut. Surat kabar itu menyebut Brigadir Jenderal Khaled Khattab, mantan pemimpin faksi Ansar al-Tawhid yang kini menjadi komandan Divisi ke-82 di tentara Suriah yang baru. Ia dilaporkan menghabiskan empat hari di wilayah selatan Saudi, Asir dan Najran, bersama perwira Saudi, dan delegasi mengunjungi lokasi-lokasi yang disebut-sebut disiapkan untuk menerima pejuang Suriah.

Al-Akhbar juga menyebut Brigadir Jenderal Haitham al-Ali, dikenal sebagai Abu Muslim, yang memimpin Korps Ketiga tentara dan merupakan mantan komandan Hayat Tahrir al-Sham. Ia disebut bertemu perwira Saudi di kementerian pertahanan di Riyadh. Topik yang dilaporkan meliputi biaya pemindahan sekitar 10.000 pejuang, pengaturan keuangan, keuntungan, dan peran militer yang diharapkan. Surat kabar itu menyatakan delegasi telah merampungkan persiapan logistik untuk pemindahan tersebut.

Tidak ada rincian ini yang dikonfirmasi oleh pejabat Saudi atau Suriah dalam materi yang ditinjau. Damaskus telah membantah rencana mengirim pasukan ke Yaman.

Analis: dukungan tidak harus berarti pasukan di Yaman

Muaz al-Abdallah, analis Suriah di Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED), mengatakan kepada The New Arab bahwa dukungan militer Suriah bagi Arab Saudi tidak serta-merta berarti pengerahan pasukan di dalam Yaman.

Ia mengatakan salah satu kemungkinannya adalah pasukan Suriah dikirim untuk membantu melindungi perbatasan selatan Arab Saudi, alih-alih berperang melawan kelompok Houthi di tanah Yaman. Al-Abdallah menyatakan pernyataan Suriah masih membuka kemungkinan kerja sama militer dengan Riyadh, meskipun Damaskus tetap menegaskan bahwa pihaknya tidak mengerahkan pasukan di dalam Yaman.

Teks yang diterbitkan The New Arab, sebagaimana tersedia, tidak memuat pandangan analis lebih lanjut tentang seperti apa bentuk dukungan lain tersebut.

Mesir membahas dukungannya bagi Riyadh

Secara terpisah, parlemen Mesir tengah membahas dukungan militer bagi Arab Saudi. Anadolu Agency, mengutip media Mesir, melaporkan bahwa anggota parlemen pada Senin melanjutkan pembahasan tertutup tentang pemberian wewenang kepada Presiden Abdel Fattah al-Sisi untuk memberikan dukungan militer, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan, jika kerajaan memintanya.

Sidang ini merupakan sesi ketiga yang dipimpin Ketua Parlemen Hisham Badawi, setelah dua pertemuan tertutup pekan lalu yang digelar atas permintaan Sisi, menurut surat kabar Mesir Al-Akhbar. Anadolu menyebut hampir 500 anggota parlemen telah meminta untuk berbicara, yang berarti sesi tambahan mungkin digelar sebelum pemungutan suara final.

Wakil Ketua DPR Assem el-Gazzar mengatakan lebih dari 100 anggota parlemen telah berbicara dalam dua sesi pertama. Sebagian besar menyatakan dukungan bagi pemberian wewenang kepada Sisi untuk mengirim pasukan guna membela wilayah Saudi, katanya. Ia menambahkan bahwa Mesir tetap berkomitmen pada diplomasi sebagai pendekatan utama untuk menjaga perdamaian. Sidang dilakukan secara tertutup, katanya, karena anggota parlemen membutuhkan akses ke informasi strategis yang sensitif sebelum memutuskan.

Dalam sebuah unggahan di Telegram, Al Jazeera Arabic menyatakan parlemen Mesir telah menyetujui permintaan Sisi untuk mengambil langkah-langkah pertahanan guna mendukung Arab Saudi. Unggahan itu belum terverifikasi, dan laporan Anadolu yang terbit tak lama sebelumnya menyebut pemungutan suara final masih akan dilakukan.

Berdasarkan Pasal 152 konstitusi Mesir, presiden tidak dapat menyatakan perang atau mengirim angkatan bersenjata dalam misi tempur di luar negeri tanpa berkonsultasi dengan Dewan Pertahanan Nasional dan memperoleh persetujuan dua pertiga di parlemen, menurut Anadolu.

Sisi telah menyatakan Mesir siap mengambil langkah-langkah yang diminta Arab Saudi untuk mempertahankan wilayahnya, sambil menekankan upaya diplomatik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, demikian dilaporkan Anadolu.

Latar belakang

Anadolu menggambarkan perdebatan ini berlangsung di tengah meningkatnya permusuhan antara kelompok Houthi Yaman dan koalisi pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Otoritas Saudi melaporkan serangan drone dan rudal berulang kali ke sejumlah wilayah di kerajaan, termasuk Riyadh dan wilayah selatan dekat perbatasan Yaman.

Pada 19 Oktober, Dewan Pertahanan Nasional Mesir menyatakan solidaritas dengan Arab Saudi setelah serangan tersebut dan menegaskan kembali komitmen Kairo terhadap keamanan dan kedaulatan Saudi. Dewan kemudian bertemu di bawah pimpinan Sisi untuk membahas perkembangan kawasan dan serangan terbaru, menurut Anadolu.

Para perwira Suriah yang disebut Al-Akhbar berasal dari faksi-faksi yang sebelumnya terpisah dari tentara nasional. The New Arab menggambarkan kelompok Khattab sebelumnya, Ansar al-Tawhid, dan kelompok al-Ali sebelumnya, Hayat Tahrir al-Sham, sebagai bagian dari latar belakang mereka sebelumnya. Unit mereka kini berada dalam apa yang disebut surat kabar tersebut sebagai tentara Suriah yang baru.

Perkembangan berita

  1. 21 Oktober 2026Delapan nelayan tewas dalam serangan terhadap perahu di Taiz, Yaman, kata kementerian
  2. 21 Oktober 2026Rudal balistik Houthi menargetkan bandara Aden, lapor Al-Arabiya
  3. 27 Oktober 2026Suriah membantah mengirim pasukan ke Yaman saat analis menimbang bentuk dukungan lain bagi Arab Saudi
  4. 27 Oktober 2026Koalisi pimpinan Saudi mengklaim menghancurkan terowongan rudal dan landasan peluncuran Houthi di Yaman

Sumber

Laporan ini ditulis dari sumber di bawah dan diperiksa dengan sedikitnya dua di antaranya.

AIDisusun dengan bantuan AI dari sumber di bawah.Cara kami menggunakan AI

Menemukan kesalahan?

Liputan terkait