Skip to content
Zenga News

Serangan terhadap pasar Nyala di Darfur menewaskan lebih dari 100 orang, kata kelompok hak asasi

Emergency Lawyers mengatakan serangan drone pada Senin di Nyala, ibu kota de facto RSF di Darfur Selatan, menewaskan lebih dari 100 orang. Kelompok lain memberikan angka yang lebih rendah, dan tidak ada yang dapat diverifikasi, lapor Al Jazeera.

Onur Irmako
Zenga News Desk Afrika · Disunting oleh Onur Irmako · Diperbarui · 4 menit baca
File photo: Market street with post office in Nyala, South Darfur, Sudan
File photo: Market street with post office in Nyala, South Darfur, Sudan Foto: Leovdvxxx / Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0

NYALA, Sudan — Serangan drone militer terhadap sebuah pasar yang ramai di Nyala, Darfur Selatan, Sudan, menewaskan lebih dari 100 orang pada Senin, menurut kelompok hak asasi Emergency Lawyers, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera. Angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi.

Al Jazeera, mengutip Emergency Lawyers, sebuah kelompok yang memantau kekerasan di Sudan, melaporkan bahwa serangan itu menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai 113 orang. Kelompok tersebut menyatakan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak, menurut laporan Al Jazeera.

Dari lokasi, di media sosial

Nyala adalah ibu kota de facto Pasukan Dukungan Cepat (RSF), kelompok paramiliter yang berperang melawan tentara Sudan. Al Jazeera, yang menyusun laporannya bersama Associated Press (AP), menyebutkan bahwa pasar tersebut sering dikunjungi para pejuang RSF.

Kesaksian warga

Al Jazeera melaporkan bahwa para saksi menggambarkan kelompok korban yang berbeda dari yang disampaikan Emergency Lawyers. Pada Rabu, mereka mengatakan beberapa pedagang sipil yang menjual barang kepada pejuang RSF termasuk di antara korban tewas.

Seorang penjual rokok mengatakan kepada AP bahwa ratusan pejuang RSF berkumpul di pasar pada malam serangan itu. Menurut kisah kesaksiannya sebagaimana dicatat Al Jazeera, ia memindahkan lapaknya di antara kelompok-kelompok pejuang untuk menjual rokok. Ia mengatakan sebuah drone menghantam sekitar pukul 20.00 (18.00 GMT) dan menewaskan puluhan pejuang serta perempuan yang menjual makanan.

Saksi kedua mengatakan kepada AP bahwa ledakannya sangat besar dan menewaskan banyak pejuang. Al Jazeera menyebutkan, saksi tersebut memperkirakan sekitar 14 warga sipil tewas, termasuk perempuan dan anak-anak. Ia mengatakan sebagian besar dari mereka adalah perempuan yang menjual teh dan makanan.

Kedua saksi berbicara kepada AP dengan syarat identitas mereka dirahasiakan karena takut akan pembalasan, menurut Al Jazeera.

Kesaksian pekerja bantuan dan tenaga medis

Mubarak Bekheit, seorang pekerja bantuan di Darfur, mengatakan pada Rabu bahwa banyak orang masih hilang, lapor Al Jazeera. Ia mengatakan sebagian jenazah belum dievakuasi dari rumah-rumah di kawasan itu, karena serangan tersebut mengenai lingkungan permukiman warga sipil.

"Saya secara pribadi tahu bahwa perang tidak mengenal moral, tetapi kenyataan yang kami saksikan setiap hari adalah warga sipil yang membayar harga paling tinggi." — Mubarak Bekheit, pekerja bantuan di Darfur

Dokter Lintas Batas, yang dikenal sebagai MSF, mengatakan serangan kedua mengenai lingkungan permukiman warga sipil setelah serangan di pasar, menurut Al Jazeera. Organisasi itu menyatakan sebuah rumah sakit yang didukungnya di Nyala menerima 36 jenazah dalam beberapa jam setelah serangan. Dua puluh satu di antaranya mengenakan pakaian sipil, kata MSF. Timnya juga melihat lebih dari 150 korban luka di ruang gawat darurat, kata kelompok tersebut.

"Pasar, rumah, dan infrastruktur sipil penting bukanlah sasaran," kata MSF dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera. "Semua pihak dalam konflik harus melindungi warga sipil."

Perbedaan angka korban

Al Jazeera menyebutkan bahwa angka korban dari serangan Senin belum dikonfirmasi dan tidak dapat diverifikasi secara independen, karena sedikit informasi yang keluar dari kota tersebut.

Sudan Doctors Network, kelompok lain yang memantau kekerasan, mengeluarkan pernyataan awal pada Rabu, menurut Al Jazeera. Mereka melaporkan 21 orang tewas dan lebih dari 40 luka-luka. Kelompok itu menyatakan bahwa tembakan artileri menyebabkan sebagian besar kematian. Mereka menyebutkan pernyataan tersebut tertunda karena kesulitan menjangkau sumber lapangan di Nyala selama operasi militer yang sedang berlangsung dan keterbatasan keamanan, sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Pihak yang berpihak pada tentara memberikan versi yang berbeda. Al Jazeera melaporkan bahwa Mohamed Didan, juru bicara resmi Pasukan Operasi Khusus yang berjuang bersama tentara, menulis di Facebook bahwa lebih dari "150 rekrut milisi" tewas. Ia mengatakan hal itu terjadi di kamp Dumaya, di sebelah barat Nyala, dalam apa yang ia sebut "serangan udara yang presisi dan terarah". Al Jazeera tidak menyebutkan apakah serangan di kamp Dumaya dan serangan di pasar merupakan peristiwa yang sama. Laporan tersebut tidak memuat pernyataan tentara mengenai pasar itu.

Dengan demikian, angka-angka tersebut sangat berbeda. Mulai dari 21 orang tewas dalam hitungan awal Sudan Doctors Network, hingga lebih dari 100 orang tewas dalam hitungan Emergency Lawyers. MSF mencatat 36 jenazah di satu rumah sakit. Juru bicara yang berpihak pada tentara mengklaim lebih dari 150 pejuang tewas di sebuah kamp.

Latar belakang

Al Jazeera menggambarkan perang antara RSF dan tentara kini memasuki tahun keempat. Menurut laporan tersebut, konflik telah menyebabkan kemiskinan parah, kekurangan pangan, dan krisis pengungsian terburuk di dunia. Sebagian wilayah negara itu, menurut laporan tersebut, telah terdorong ke kondisi kelaparan.

Al Jazeera juga mengutip Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melaporkan bahwa serangan drone telah menjadi penyebab utama kematian warga sipil di Sudan.

Laporan itu memuat angka gizi buruk anak di Nyala, yang berada di bawah kendali RSF. Menurut perkiraan PBB yang dirilis awal bulan ini, proporsi anak yang mencari perawatan untuk gizi buruk akut berat di sana lebih dari dua kali lipat antara Januari dan Agustus. Angkanya naik dari 5 persen menjadi 11 persen, lapor Al Jazeera.

Laporan ini hanya bersumber dari liputan Al Jazeera, yang mengandalkan AP, Emergency Lawyers, Sudan Doctors Network, MSF, seorang pekerja bantuan, dan saksi-saksi yang identitasnya dirahasiakan. Zenga News tidak mengonfirmasi secara independen angka korban mana pun maupun keterangan mengenai sasaran serangan.

Perkembangan berita

  1. 20 Oktober 2026ICRC chief says aid group is drawing attention to Sudan crisis
  2. 21 Oktober 2026PBB Peringatkan Penarikan Dini Pasukan Penjaga Perdamaian saat Perang Sudan Meluas ke Republik Afrika Tengah
  3. 21 Oktober 2026Pertemuan Jenewa tentang upaya perdamaian Sudan dibuka dengan seruan untuk meredakan eskalasi
  4. 29 Oktober 2026Serangan terhadap pasar Nyala di Darfur menewaskan lebih dari 100 orang, kata kelompok hak asasi

Sumber

Laporan ini ditulis dari sumber di bawah dan diperiksa dengan sedikitnya dua di antaranya.

AIDisusun dengan bantuan AI dari sumber di bawah.Cara kami menggunakan AI

Menemukan kesalahan?

Liputan terkait