Iran Air sebut 20 hingga 30 pesawatnya hancur dalam perang
Pimpinan maskapai penerbangan bendera milik negara Iran itu menyatakan antara 20 hingga 30 pesawat hancur selama perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia mengatakan maskapai tersebut membutuhkan sekitar 1.000 pesawat penumpang.

TEHERAN — Antara 20 hingga 30 pesawat hancur selama perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, kata direktur utama maskapai penerbangan bendera milik negara itu pada Senin, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim. Taher Abdolhai, Direktur Utama Iran Air, yang juga dikenal sebagai HOMA, menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers. Sumber laporan ini adalah Tasnim, yang mengutip Abdolhai. Anadolu Agency melaporkan keterangan ini pada 19 Oktober 2026.
Abdolhai mengatakan Iran membutuhkan sekitar 1.000 pesawat penumpang, tetapi hanya memiliki sekitar 300. Dari jumlah itu, antara 130 hingga 140 pesawat beroperasi sebelum perang. Ia mengatakan 20 hingga 30 di antaranya hancur selama konflik. Ia juga mengatakan antara 70 hingga 80 pesawat menjadi sasaran selama perang.
Abdolhai mengatakan serangan Israel menyebabkan kerusakan yang sangat parah pada pesawat Iran Air. Menurutnya, beberapa pesawat milik operator lain terkena rudal tunggal, sementara salah satu pesawat maskapai itu hancur sepenuhnya. Klaim ini berasal dari Abdolhai seorang diri. Laporan tersebut tidak menyertakan konfirmasi independen atas kehilangan pesawat ini.
Pimpinan maskapai itu juga mengatakan sanksi dan pembatasan internasional secara bertahap melemahkan operasi Iran Air. Menurutnya, sanksi tersebut mengurangi armada yang beroperasi dan membatasi akses ke rute yang menguntungkan. Ia menyebut kesulitan memperoleh suku cadang, keterbatasan keuangan, dan tantangan kepegawaian sebagai hambatan utama.
Abdolhai mengatakan Iran Air mempekerjakan lebih dari 9.000 orang. Ia menyatakan maskapai harus meningkatkan efisiensi seiring berkurangnya jumlah pesawat yang beroperasi. Ia juga menentang privatisasi maskapai nasional tersebut. Menurutnya, Iran Air melayani kepentingan nasional yang strategis di luar penerbangan komersial.
Pernyataan ini disampaikan ketika negara itu masih menghadapi dampak berkelanjutan dari perang, yang menurut laporan tersebut telah menimbulkan kerusakan luas pada infrastruktur militer dan sipil Iran. Laporan itu tidak memberikan angka kerusakan selain jumlah pesawat.
Dari laporan ini tidak jelas berapa dari 70 hingga 80 pesawat yang menjadi sasaran yang terkena serangan, atau berapa banyak pesawat yang masih beroperasi yang kini terbang. Laporan itu juga tidak menyebutkan kapan pesawat-pesawat tersebut hancur.
Latar belakang
Sanksi AS telah membatasi akses Iran terhadap pesawat baru, suku cadang, layanan perawatan, dan pembiayaan internasional. Menurut laporan tersebut, penarikan diri Washington dari kesepakatan nuklir pada 2018 dan pemberlakuan kembali sanksinya mengganggu pembelian pesawat dari Boeing dan Airbus. Laporan itu menyebut kondisi ini membuat sebagian pesawat tidak dapat terbang dan meningkatkan biaya perawatan.
Sumber
Laporan ini didasarkan pada pernyataan resmi atau sumber di bawah, dan setiap klaim dikaitkan dengannya.
AIDisusun dengan bantuan AI dari sumber di bawah.Cara kami menggunakan AI
Menemukan kesalahan?