Skip to content
Zenga News

Pria sayap kanan dipenjara karena rencana bom tempat ibadah Ahmadiyah di Galway

Tiga pria yang mengaku merencanakan serangan bom molotov ke Masjid Maryam di Monivea Road dijatuhi hukuman di Dublin, menurut laporan 5Pillars. Kasus ini melibatkan kebencian terhadap imigran dan Islamofobia.

Onur Irmako
Zenga News Desk Eropa & Amerika · Disunting oleh Onur Irmako · Diperbarui · 3 menit baca
File photo: Galway City - Galway Cathedral Interior - West & North Wings
File photo: Galway City - Galway Cathedral Interior - West & North Wings Foto: Suzanne Mischyshyn / Wikimedia Commons · CC BY-SA 2.0

DUBLIN — Tiga pria dijatuhi hukuman pada Jumat, 30 Oktober, di Pengadilan Pidana Khusus Irlandia di Dublin atas rencana membakar dengan bom molotov sebuah tempat ibadah Ahmadiyah di Galway, menurut laporan media 5Pillars.

5Pillars melaporkan bahwa para pria tersebut mengaku bersalah atas upaya terlibat dalam aktivitas teroris. Sasarannya adalah Masjid Maryam di Monivea Road, dan upaya itu dilakukan antara 4 hingga 5 November 2025, menurut media tersebut. Media itu menyebutkan bahwa para pria tersebut kemungkinan keliru menganggap lokasi itu sebagai masjid.

Dari lokasi, di media sosial

Hukuman

Menurut 5Pillars, Garrett Pollock, 35 tahun, dari Annalong di County Down, dijatuhi hukuman 10,5 tahun, dengan satu tahun terakhir ditangguhkan. Darren Gorman, 34 tahun, dari Portlaoise di County Laois, dan Karolis Peckauskas, 39 tahun, dari Drogheda di County Louth, masing-masing dijatuhi hukuman delapan tahun, dengan satu tahun terakhir ditangguhkan.

Media tersebut menyebutkan bahwa pelanggaran itu diperberat oleh kebencian terhadap imigran, khususnya imigran Muslim. Pollock juga mengaku bersalah atas kepemilikan zat peledak. 5Pillars menyebutkan zat itu ditemukan dalam empat toples kaca yang disembunyikan di kompartemen khusus di dalam vannya.

Kelompok tersebut

5Pillars melaporkan bahwa para pria itu tergabung dalam sebuah organisasi swadeklarasi bernama Irish Defence Army. Gardaí menggambarkannya di pengadilan sebagai kelompok ekstremis sayap kanan yang gemar melakukan kekerasan, menurut media tersebut. Kelompok itu dilaporkan memiliki nama, lambang, manifesto, dan sumpah setia. Anggotanya berkomunikasi melalui grup Signal bernama "Shadows of Eire."

Media itu menyebutkan bahwa bukti yang disampaikan di pengadilan menunjukkan kelompok tersebut semula mempertimbangkan bom bensin. Mereka kemudian memilih bom pipa, yang menurut anggotanya akan menimbulkan kerusakan lebih besar dan dampak publik yang lebih luas.

Menurut 5Pillars, rencananya adalah membobol masjid, melemparkan perangkat peledak ke dalamnya, lalu pergi. Kelompok itu kemudian akan menghancurkan senjata dan kendaraan yang digunakan. Media tersebut menyatakan telah mengidentifikasi titik masuk dan keluar serta membahas peran masing-masing anggota.

5Pillars melaporkan bahwa penyidik menyita pisau, kapak, palu besar, balaklava, pakaian taktis, dan bahan kimia. Pengadilan mendengar bahwa sebagian bahan tersebut dapat digunakan untuk membuat perangkat peledak rakitan.

Video dan penangkapan

Media itu menyebutkan bahwa para pria merekam video yang menyatakan tanggung jawab sebelum serangan. Video itu memperlihatkan empat pria bertopeng berpakaian taktis di depan bendera Irlandia. Menurut 5Pillars, mereka mengancam serangan lanjutan terhadap masjid, pusat penampungan pencari suaka, hotel, dan orang-orang yang terlibat dalam memfasilitasi imigrasi. Mereka juga memperingatkan bahwa Galway tidak akan menjadi serangan terakhir, menurut media tersebut.

5Pillars melaporkan bahwa rencana itu terungkap saat Gardaí yang melakukan apa yang disebut sebagai penggeledahan narkoba acak menghentikan sebuah kendaraan pada November 2025. Pollock dan Peckauskas berada di dalamnya. Petugas menemukan bahan peledak dan barang lain yang terkait dengan kelompok tersebut, menurut media itu. Para pria kemudian ditangkap dan bukti rencana serangan ditemukan.

Penyelidikan melibatkan kerja sama antara Gardaí dan Kepolisian Irlandia Utara (Police Service of Northern Ireland), menurut 5Pillars. Pengadilan mendengar bahwa penyidik meyakini persiapan sudah sangat matang. Mereka tidak mengetahui secara pasti kapan serangan akan dilakukan, menurut media tersebut.

Latar belakang

5Pillars menyebutkan bahwa Ahmadiyah, yang juga dikenal sebagai Qadiani, tidak diakui sebagai Muslim di sebagian besar dunia Islam. Media itu menyebutkan bahwa di Barat mereka menyebut diri mereka "Muslim Ahmadiyah". Menurut media tersebut, mereka kadang menjadi sasaran orang-orang yang memiliki pandangan Islamofobia dan menganggap mereka Muslim.

Media itu menambahkan bahwa komunitas Sikh dapat terdampak dengan cara serupa, ketika kekerasan Islamofobia diarahkan kepada mereka akibat salah identifikasi.

Teks sumber berakhir sebelum akhir artikel. Laporan ini hanya bersumber dari 5Pillars, dan pemaparannya mengenai jalannya persidangan belum dikonfirmasi secara independen di sini.

Perkembangan berita

  1. 20 Oktober 2026Heckler who questioned Abdul El-Sayed is son of Republican adviser paid for influencer marketing
  2. 20 Oktober 2026Trump: Rep. Ilhan Omar bisa dipenjara, tidak hanya menghadapi deportasi
  3. 26 Oktober 2026Trump membawa-bawa 9/11 dalam serangan anti-Muslim terhadap kandidat Senat Michigan El-Sayed
  4. 31 Oktober 2026Pria sayap kanan dipenjara karena rencana bom tempat ibadah Ahmadiyah di Galway

Sumber

Laporan ini didasarkan pada pernyataan resmi atau sumber di bawah, dan setiap klaim dikaitkan dengannya.

AIDisusun dengan bantuan AI dari sumber di bawah.Cara kami menggunakan AI

Menemukan kesalahan?

Liputan terkait