Pemuka lintas agama bersatu melawan intimidasi pemilih pada Hari Pemungutan Suara
Sebuah pasukan relawan yang terdiri atas rohaniwan dan penjaga perdamaian awam akan berdiri di luar tempat pemungutan suara di sembilan negara bagian medan pertempuran AS pada 3 November, kata sebuah koalisi.

WASHINGTON — Sebuah koalisi nonpartisan yang terdiri atas kelompok lintas agama dan sekuler sedang melatih ratusan rohaniwan dan penjaga perdamaian awam untuk bertugas sebagai pendamping rohani di tempat pemungutan suara di sembilan negara bagian medan pertempuran untuk pemilihan sela pada 3 November, menurut laporan yang diterbitkan pada 20 Oktober 2026.
Para relawan akan dikerahkan ke Arizona, Michigan, Georgia, Ohio, Pennsylvania, Carolina Utara, Wisconsin, Virginia, dan Texas, tempat persaingan yang diperebutkan diperkirakan akan memanaskan ketegangan politik. Mereka akan mengenakan topi dan rompi identitas serta tetap berada di luar pusat pemungutan suara. Tujuan mereka, sebagaimana dinyatakan, adalah menjaga kehadiran yang tenang dan menenangkan agar pemilih dapat memberikan suara tanpa rasa takut atau ragu, kata salah satu pendiri, Barbara Williams-Skinner, menurut Bangor Daily News.
Kelompok tersebut, Faiths United in Saving Democracy, melatih para relawan secara daring dan tatap muka hingga akhir Oktober. Pelatihan mencakup teknik meredakan ketegangan, hukum dan sumber daya setempat, serta hak-hak imigran. Peserta juga menerima nomor telepon untuk dihubungi dalam situasi genting, kata Williams-Skinner. Per 19 Oktober, koalisi tersebut telah merekrut 1.235 pendamping rohani dan penjaga perdamaian, katanya.
Williams-Skinner menyatakan bahwa inisiatif ini bersifat nonpartisan. Ia mengatakan sebagian besar kelompok peserta bersifat moderat atau progresif, tetapi koalisi tidak menyaring peserta berdasarkan pandangan politik. "Kami tidak mempermasalahkan siapa yang moderat atau siapa yang konservatif," katanya. "Orang-orang hanya perlu bisa memberikan suara tanpa rasa takut."
Sebagian relawan telah mempersiapkan diri. Pada 6 Oktober 2026, Jaringan Iman Arizona menggelar pelatihan bagi pendamping rohani dan penjaga perdamaian di Temple Chai di Scottsdale, Arizona, menjelang pemilihan sela. Foto-foto dari sesi tersebut memperlihatkan para relawan menerima bahan pelatihan dan kaus.
Williams-Skinner mengatakan kekhawatiran koalisi adalah kehadiran agen imigrasi federal di dekat tempat pemungutan suara. Ia menyebut ketakutan itu nyata dan dapat membuat pemilih yang memenuhi syarat dari keluarga dengan status imigrasi campuran serta komunitas kulit berwarna mengurungkan niat memilih. Pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri secara konsisten menyatakan tidak berencana mengirim agen imigrasi ke tempat pemungutan suara. Sekretaris DHS Markwayne Mullin mengatakan agen dapat muncul di tempat pemungutan suara untuk alasan tertentu, misalnya menangkap seseorang yang memiliki surat perintah. Laporan-laporan tersebut tidak menyebutkan apakah penangkapan semacam itu direncanakan.
Belum jelas berapa banyak relawan yang akan dikerahkan di setiap negara bagian. Laporan menyebut "ratusan" orang akan bertugas, tetapi tidak memberikan angka pasti selain jumlah rekrutmen. Laporan tersebut juga tidak menyebutkan berapa banyak relawan yang akan bertugas di satu tempat pemungutan suara.
Latar belakang
Pendamping rohani dan penjaga perdamaian awam telah bertugas di tempat pemungutan suara pada siklus pemilihan belakangan ini. Williams-Skinner mengatakan gagasan ini sudah ada selama beberapa tahun, tetapi "2026 akan berbeda." Inisiatif ini sangat berakar pada gereja-gereja kulit hitam dan telah berkembang hingga mencakup agama-agama selain Kristen, serta orang-orang yang tidak beragama, katanya.
Sebuah survei Pew yang dilakukan setelah pembunuhan aktivis konservatif Charlie Kirk pada September 2025 menemukan bahwa 85% warga Amerika, lintas garis politik, meyakini kekerasan politik sedang meningkat, menurut laporan tersebut.
Tempat pemungutan suara pernah menjadi sasaran pada pemilihan-pemilihan sebelumnya. Pada 2022, anggota sebuah kelompok yang mengaku memantau kotak surat suara di Arizona diperintahkan untuk menjauh setidaknya 250 kaki (75 meter) setelah pemilih mengeluhkan intimidasi. Pada 2020, setelah Hari Pemungutan Suara, sekelompok massa menyerbu pusat penghitungan suara di Detroit. Banyak dari massa tersebut terhasut oleh teori konspirasi daring tentang kecurangan pemilu, menurut laporan tersebut. Pendeta Steve Bland, gembala Gereja Baptis Liberty Temple di Detroit, termasuk di antara pemuka agama yang berdiri di antara gedung dan massa. Ia melanjutkan pekerjaan itu sebagai pendamping rohani.
Bland mengatakan meredakan ketegangan sering kali melibatkan "penggunaan kata-kata yang tepat untuk menenangkan situasi." Ia pernah membantu seorang perempuan kulit hitam lanjut usia memberikan suara dalam pemilihan sebelumnya. "Tanpa intervensi itu, tiga orang tidak akan memberikan suara hari itu," katanya.
Sumber
Laporan ini ditulis dari sumber di bawah dan diperiksa dengan sedikitnya dua di antaranya.
- winchesterstar.comen · 20 Oktober 2026
- dailygazette.comen · 20 Oktober 2026
- bangordailynews.comen · 20 Oktober 2026
- dailypress.comen · 20 Oktober 2026
- wataugademocrat.comen · 20 Oktober 2026
- isp.netscape.comen · 20 Oktober 2026
AIDisusun dengan bantuan AI dari sumber di bawah.Cara kami menggunakan AI
Menemukan kesalahan?