Skip to content
Zenga News

Netanyahu: serangan ke situs nuklir Iran tidak cukup selama rezim masih berkuasa

Perdana Menteri Israel mengatakan kepada Channel 7 bahwa menyerang fasilitas nuklir Iran tidak cukup selama pemerintahnya masih berkuasa, menurut laporan Al Jazeera Arabic. Ia juga mengatakan tidak akan meminta persetujuan Trump untuk melakukan serangan.

Onur Irmako
Zenga News Desk Timur Tengah · Disunting oleh Onur Irmako · Diperbarui · 3 menit baca
File photo: Prime Minister Benjamin Netanyahu of Israel concludes his third address before a joint meeting of Congress and reaffirms the strong bonds between Israel and the United States. March 3, 2015. (Official Photo by Caleb Smith) -- This officia
File photo: Prime Minister Benjamin Netanyahu of Israel concludes his third address before a joint meeting of Congress and reaffirms the strong bonds between Israel and the United States. March 3, 2015. (Official Photo by Caleb Smith) -- This officia Foto: Speaker of the house Boehner / Wikimedia Commons · Public domain

YERUSALEM — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dalam wawancara dengan Channel 7 Israel bahwa menyerang fasilitas nuklir Iran tidak cukup selama pemerintah Iran masih berkuasa, menurut Al Jazeera Arabic.

Al Jazeera Arabic memuat pernyataan tersebut dalam unggahan berita terkini di saluran Telegram-nya pada 22 Oktober. Unggahan itu hanya berisi ringkasan satu baris. Unggahan tersebut tidak mencantumkan wawancara lengkap, tanggal perekaman, ataupun kutipan lanjutan. Zenga News belum memverifikasi wawancara itu secara independen.

Dari lokasi, di media sosial

Pernyataan dalam reli Dimona

Unggahan Telegram tersebut sejalan dengan pernyataan Netanyahu dalam sebuah reli pemilihan umum di kota Dimona, Israel selatan, sebagaimana dilaporkan Arab News. Ia mengatakan akan memberi tahu Presiden AS Donald Trump tentang rencana Israel, tetapi tidak akan meminta izin untuk menyerang Iran.

"Saya akan memberi tahu Trump tentang apa yang kami rencanakan, tetapi saya tidak akan meminta lampu hijau darinya untuk menyerang Iran," kata Netanyahu, menurut Arab News.

Ia kemudian menjelaskan instruksi tetap yang ia berikan kepada dinas keamanan Israel.

"Saya telah mengeluarkan arahan yang menyatakan bahwa satu-satunya solusi yang dapat diterima adalah tergulingnya rezim di Iran." — Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, dikutip oleh Arab News

Dalam reli tersebut, Netanyahu mengatakan Iran pernah ingin menghancurkan Israel dan memproduksi bom nuklir, dan Israel telah menghentikan keduanya. "Namun mereka tetap bertahan," katanya. "Oleh karena itu, hanya ada satu cara untuk mengakhirinya: dengan menggulingkan rezim ini."

Netanyahu mengatakan ia telah memberikan arahan tersebut kepada Pasukan Pertahanan Israel, Mossad, dan seluruh cabang keamanan Israel, menurut laporan Arab News. Ia tidak mengatakan kapan atau bagaimana arahan itu akan dilaksanakan.

Arab News menyebut pernyataan di Dimona disampaikan pada hari Kamis, tetapi laporannya diterbitkan pada Rabu malam. Zenga News tidak dapat menyelesaikan perbedaan tersebut dari materi yang tersedia. Dari sumber-sumber itu juga tidak jelas apakah pernyataan di Dimona dan wawancara Channel 7 merupakan dua peristiwa yang terpisah.

Laporan tentang serangan yang ditunda

Arab News mengutip laporan Financial Times, yang terbit pada Rabu dan didasarkan pada sumber anonim, tentang perencanaan Israel sebelumnya. Menurut Financial Times, Netanyahu telah merencanakan serangan ke Iran pada awal bulan ini. Surat kabar itu menyebut Trump menolak dimulainya kembali pertempuran sebelum pemilihan sela AS.

Financial Times melaporkan bahwa militer Israel siap bertindak pada akhir pekan 10 Oktober. Sasarannya disebut mencakup fasilitas nuklir Iran, situs yang terkait dengan pemerintah, dan infrastruktur sipil seperti pembangkit energi. Materi sumber tidak mengutip pemerintah Israel maupun AS yang membenarkan atau membantah laporan tersebut. Identitas sumber Financial Times tidak diketahui.

Penerbangan militer dekat perbatasan Iran

Arab News juga mengutip Axios mengenai penerbangan militer Israel pada hari Senin. Axios, dengan mengutip pejabat Israel dan AS, melaporkan bahwa puluhan jet tempur angkatan udara Israel terbang hingga ke perbatasan Iran.

Menurut Axios, penerbangan itu terjadi sekitar seminggu sebelum pemilihan umum Israel. Penerbangan tersebut bertepatan dengan hari ketika Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bertemu Netanyahu.

Sejumlah pejabat Israel dan AS kepada Axios mengatakan bahwa operasi itu tidak luar biasa dan dimaksudkan untuk menggentarkan Iran, menurut Arab News. Axios menyebut operasi itu juga bisa menimbulkan salah perhitungan. Hal itu dapat memicu respons Iran dan memulai kembali perang.

Sumber Axios menyebut Israel telah memberi tahu AS sebelumnya. Mereka mengatakan Israel menggambarkan operasi itu sebagai latihan untuk "proyeksi kekuatan". Tujuannya, menurut mereka, adalah menggentarkan Iran agar tidak menyerang Israel sebelum pemilihan.

Kritik dari oposisi

Yair Lapid, mantan perdana menteri dan pemimpin sentris oposisi parlemen Israel, mengkritik pernyataan Netanyahu pada hari Rabu, menurut Arab News, yang mengutip AFP. Lapid merupakan salah satu calon dalam pemilihan yang dijadwalkan pada Selasa depan.

"Saya benar-benar terkejut mendengar Netanyahu dengan sembrono melontarkan ancaman keamanan," kata Lapid. "Netanyahu sedang menjadikan keamanan Israel sebagai sirkus elektoral," tambahnya. Ia mengatakan Netanyahu "bertanggung jawab atas rentetan kegagalan keamanan terpanjang dalam sejarah Israel".

Lapid menuduh perdana menteri itu secara berbahaya mempolitisasi keamanan negara menjelang pemungutan suara. Tanggapan Netanyahu atas tuduhan tersebut tidak termuat dalam materi sumber.

Latar belakang

Arab News menyebut Netanyahu bersaing ketat dalam jajak pendapat terbaru dengan koalisi oposisi yang mencakup Lapid. Koalisi itu dipimpin oleh Gadi Eisenkot, mantan kepala militer.

Oposisi berupaya menyoroti kegagalan Netanyahu mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang oleh Arab News disebut sebagai serangan paling mematikan dalam sejarah Israel.

Materi sumber menyinggung pertempuran sebelumnya antara Israel dan Iran, dan menyebut serangan yang direncanakan akan memicunya kembali. Materi tersebut tidak memberikan rincian kapan pertempuran itu terjadi atau bagaimana akhirnya.

Sumber-sumber tidak menyebutkan apakah Israel telah menetapkan tanggal untuk serangan apa pun. Sumber-sumber juga tidak menyebutkan apakah AS telah mengubah sikapnya sejak laporan Financial Times. Pemerintah Iran maupun Gedung Putih tidak dikutip dalam materi yang ditinjau.

Sumber

Laporan ini ditulis dari sumber di bawah dan diperiksa dengan sedikitnya dua di antaranya.

AIDisusun dengan bantuan AI dari sumber di bawah.Cara kami menggunakan AI

Menemukan kesalahan?

Liputan terkait