Slogan 'Bismillah' menyebar di spanduk demonstrasi mahasiswa di Prancis
Frasa campuran bahasa Arab dan Prancis, yang berasal dari pesan yang diduga berasal dari petugas polisi yang menyamar, kini muncul di spanduk-spanduk di Prancis. Para kritikus menilai frasa itu mengejek stereotip terhadap anak muda keturunan Afrika Utara.

PARIS — Frasa campuran bahasa Arab dan Prancis, "Bismillah, c'est les ténèbres", telah menyebar dari media sosial ke spanduk-spanduk demonstrasi mahasiswa di Prancis pada Oktober 2026, menurut laporan media Turki dan Indonesia.
Frasa ini memadukan kata Arab "bismillah", yang berarti "dengan nama Tuhan", dengan frasa Prancis "c'est les ténèbres", yang kira-kira berarti "ini kegelapan". Republika, media Indonesia, menerjemahkannya sebagai "Dengan nama Tuhan, ini kegelapan". Media Turki TGRT Haber menerjemahkannya sebagai "Di mana-mana gelap".
Dari lokasi, di media sosial
Asal-usul dari pesan obrolan
Menurut Republika, frasa tersebut berasal dari tangkapan layar percakapan Snapchat yang beredar pada awal Oktober. Para mahasiswa menduga sebuah akun menyamar sebagai pelajar untuk masuk ke grup obrolan yang digunakan untuk mengorganisasi blokade sekolah.
Republika, mengutip Middle East Eye, memuat pesan dari pengguna bernama Mamadou. Pesan itu berbunyi: "Salut! Bismillah c'est les ténèbres. C'est quand le blocus wallah mon frangin. On va tous casser. Met moi dans le groupe blocus Aichek." Republika menerjemahkannya sebagai sapaan, pertanyaan kapan blokade akan dimulai, pernyataan bahwa "kami akan menghancurkan semuanya", dan permintaan agar pengguna tersebut dimasukkan ke grup blokade.
TGRT Haber, mengutip TV5Monde, melaporkan bahwa akun tersebut menggunakan emoji bendera Aljazair. Para mahasiswa meyakini pengguna itu adalah petugas polisi yang berusaha menyusup ke dalam grup, karena susunan katanya terasa janggal dan tidak terdengar seperti penutur Muslim sungguhan.
Klaim yang belum terverifikasi
Identitas pemilik akun dan keterlibatan polisi dalam hal ini belum diverifikasi secara independen, menurut Republika. Republika melaporkan bahwa kepolisian nasional Prancis, sebagaimana dikutip Le Monde pada 15 Oktober, mengatakan tidak memiliki rincian mengenai kasus tersebut.
Menyebar di dunia maya dan di demonstrasi
Frasa itu menyebar ke TikTok, Instagram, dan X, tempat ratusan parodi bermunculan, lapor Republika. Frasa tersebut kemudian mulai muncul di poster dan spanduk dalam demonstrasi mahasiswa. TGRT Haber menyebutkan bahwa sebuah halaman Wikipedia tentang frasa tersebut telah dibuat.
Aktivis iklim Greta Thunberg termasuk di antara mereka yang mengunggah slogan tersebut, menurut TGRT Haber, yang menyebut hal itu meningkatkan keterlihatannya.
Republika, mengutip media Prancis, melaporkan bahwa Partai Antikapitalis Baru (NPA) menggunakan frasa tersebut dalam materi yang mengingatkan mahasiswa akan hak-hak mereka jika ditahan polisi, termasuk hak untuk didampingi pengacara.
Membaca makna slogan
Menurut Republika, para mahasiswa menggunakan frasa itu baik untuk humor maupun untuk mengejek dugaan pengawasan terhadap gerakan mereka. Republika juga menggambarkan frasa tersebut sebagai olok-olok terhadap apa yang disebutnya upaya gagal untuk meniru cara bicara anak muda.
Para pengunjuk rasa dan komentator menafsirkan slogan itu sebagai respons ironis terhadap klaim rasis dan prasangka yang menyalahkan imigran asal Aljazair dan Maroko atas kerusuhan di jalanan Prancis, lapor TGRT Haber.
Republika menyebutkan bahwa para kritikus menyoroti nama dalam pesan itu yang diasosiasikan dengan kawasan Maghreb, rujukan berulang kepada Aljazair, dan campuran bahasa Arab serta Prancisnya. Menurut mereka, unsur-unsur ini menggambarkan anak muda dari kelompok minoritas sebagai pihak yang terkait dengan kerusuhan dan vandalisme dalam demonstrasi. Republika menyebutkan bahwa lelucon ini kini menjadi cara untuk membalikkan stigma tersebut.
Latar belakang
Kedua laporan ini sebagian bergantung pada media lain, termasuk Middle East Eye, TV5Monde, dan Le Monde, dan Zenga News belum memeriksa secara independen pesan asli tersebut. Sumber-sumber berbeda sedikit dalam hal platform: Republika menyebut Snapchat, sementara TGRT Haber hanya menyebut sebuah platform media sosial.
Perkembangan berita
- 17 Oktober 2026Reform UK skors aktivis atas pernyataan tentang Muslim dan identitas Inggris dalam rekaman ITV
- 18 Oktober 2026Protes inflasi berubah menjadi kekerasan di Prancis, 1.200 orang ditangkap
- 19 Oktober 2026PM Prancis menuding kelompok kiri jauh berupaya menebarkan kekacauan lewat unjuk rasa menjelang pemilihan presiden
- 19 Oktober 2026Slogan 'Bismillah' menyebar di spanduk demonstrasi mahasiswa di Prancis
Sumber
Laporan ini ditulis dari sumber di bawah dan diperiksa dengan sedikitnya dua di antaranya.
AIDisusun dengan bantuan AI dari sumber di bawah.Cara kami menggunakan AI
Menemukan kesalahan?