Mesir berjanji memberikan "segala dukungan yang diperlukan" kepada Arab Saudi seiring eskalasi serangan Houthi
Dewan Pertahanan Nasional Mesir menjanjikan dukungan kepada Arab Saudi setelah rapat yang dipimpin Presiden Sisi. Seorang kolumnis Saudi menilai langkah itu sebagai kesiapan Kairo untuk bergabung dalam front Teluk melawan Iran.

KAIRO — Dewan Pertahanan Nasional Mesir berjanji memberikan "segala dukungan yang diperlukan" kepada Arab Saudi pada hari Minggu, usai rapat yang dipimpin Presiden Abdel Fattah al-Sisi, menurut pernyataan Dinas Informasi Negara Mesir (SIS).
Dewan bersidang di Istana Kepresidenan di Kairo. Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa dewan memantau perkembangan kawasan yang "berbahaya", khususnya eskalasi serangan terhadap Arab Saudi, sebagaimana dilaporkan kantor berita Antara dari Indonesia.
Pernyataan tersebut menyatakan "solidaritas penuh" Mesir terhadap kerajaan itu. Pernyataan itu juga menyinggung hubungan historis kedua negara. Selain itu, disebutkan bahwa keamanan Arab Saudi terkait erat dengan keamanan nasional Mesir dan keamanan kawasan Arab secara lebih luas.
Keputusan dewan
Dewan menyatakan bahwa Mesir akan memberikan "segala dukungan yang diperlukan" kepada Arab Saudi untuk menjaga keamanan dan stabilitasnya, melindungi sumber dayanya dan integritas wilayahnya, serta menjaga tempat-tempat suci Islam, menurut laporan Antara.
Dewan juga memutuskan untuk melanjutkan dan memperkuat upaya politik dan diplomatik dengan mitra regional dan internasional terkait. Tujuan yang disebutkan adalah meredakan ketegangan dan menyelesaikan krisis saat ini secara damai.
Menurut Antara, keputusan itu diambil ketika kelompok Houthi Yaman terus menembakkan rudal dan drone ke Arab Saudi. Laporan kantor berita tersebut mengenai pernyataan SIS tidak menjelaskan langkah militer spesifik apa pun dari Mesir. Pernyataan itu juga tidak menyebut Iran.
Rapat dihadiri para pejabat senior bidang politik, militer, dan keamanan. Antara mencantumkan ketua parlemen, perdana menteri, kepala staf, menteri luar negeri, menteri dalam negeri, kepala intelijen, dan panglima angkatan bersenjata.
Antara juga menautkan dua laporan terkait. Satu laporan menyebutkan bahwa tentara Yaman mengklaim telah merebut kembali sebuah lokasi strategis dari Houthi. Laporan lainnya menyebutkan bahwa Arab Saudi mengecam serangan Houthi dan menegaskan haknya untuk mempertahankan kedaulatannya. Laporan ini belum memverifikasi kedua hal tersebut.
Pandangan seorang kolumnis
Arab News pada hari Minggu memuat artikel opini karya Abdulrahman Al-Rashed, seorang jurnalis Saudi. Ia adalah mantan direktur umum Al Arabiya dan mantan pemimpin redaksi Asharq Al-Awsat. Artikel tersebut berjudul "Mesir masuk ke dalam perang". Ini merupakan pandangan penulis, bukan pernyataan pemerintah Mesir.
Al-Rashed menulis bahwa Kairo telah "menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi" dalam front Teluk melawan Iran dan kelompok-kelompok sekutunya di Irak dan Yaman. Ia menyebut Mesir telah lama diperkirakan akan mengambil langkah tersebut. Ia menggambarkannya sebagai kebutuhan bagi keseimbangan kekuatan regional Mesir sendiri.
Kolumnis itu mengatakan ia memperkirakan sikap Mesir akan disambut dengan skeptisisme. Ia memaparkan sejumlah pertanyaan yang mungkin diajukan para kritikus: mengapa Kairo tidak bertindak 10 bulan lalu, apakah sikapnya terkait dengan simpanan finansial dari Arab Saudi, dan apakah itu hanya janji lisan. Ia berpendapat bahwa persoalan ini melampaui pertimbangan finansial.
Al-Rashed juga menulis bahwa Mesir "telah menjadi sasaran langsung proyektil" dan sebelumnya secara eksplisit diancam oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran di Yaman dan Irak. Pernyataan SIS sebagaimana dilaporkan Antara tidak menyebutkan serangan apa pun terhadap Mesir. Zenga News belum mengonfirmasi klaim ini secara independen.
Ia mengatakan waktu pernyataan itu mungkin mencerminkan upaya untuk memberi ruang bagi negosiasi dan rekonsiliasi. Ia menambahkan bahwa Kairo mungkin juga ingin menghindari kesan bergabung dengan Washington dalam front bersama melawan Iran. Ini adalah interpretasi Al-Rashed. Sumber-sumber yang ada tidak menunjukkan pejabat Mesir menyampaikan alasan-alasan tersebut.
Argumen ekonomi
Kolom tersebut mengutip alasan ekonomi di balik sikap Mesir. Al-Rashed menulis bahwa Mesir telah kehilangan pendapatan valuta asing selama tiga tahun akibat serangan Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah. Ia menyebutkan perkiraan internasional yang menempatkan kerugian sekitar 6 miliar dolar AS per tahun dari pendapatan Terusan Suez. Ia menulis bahwa biaya ini melampaui dampak gabungan perang di Libya, Sudan, dan Gaza.
Ia mengatakan risiko ekonomi yang lebih besar berasal dari dampak perang terhadap warga Mesir yang bekerja di Teluk. Menurut kolom tersebut, lebih dari 5 juta warga Mesir bekerja di lima negara Teluk. Ia menulis bahwa pekerjaan dan penghasilan mereka dapat terganggu jika perang berlanjut dan ekspor minyak dan gas dari negara-negara tersebut menurun. Zenga News belum memverifikasi angka-angka ini.
Al-Rashed juga menulis bahwa bangkitnya Iran sebagai kekuatan dominan di Teluk akan mengurangi pengaruh Mesir dan mengancam keamanan nasionalnya. Ia mengatakan Teheran pernah berupaya mendukung Ikhwanul Muslimin setelah kelompok itu berkuasa di Mesir. Ia menulis bahwa Iran dapat kembali berupaya mencampuri urusan Mesir.
Yang masih belum jelas
Sumber-sumber yang ada tidak menyebutkan apakah Mesir berencana mengirim pasukan, berbagi intelijen, atau memberikan bantuan materiel lain kepada Arab Saudi. Al-Rashed sendiri menulis bahwa apakah partisipasi Mesir akan mengubah keseimbangan militer "bergantung pada sifat dan skala keterlibatannya, yang masih harus dilihat".
Sumber-sumber yang ada tidak memuat komentar dari Arab Saudi, Houthi, atau Iran terkait keputusan dewan Mesir. Sumber-sumber tersebut juga tidak menyebutkan apakah Mesir telah mengambil langkah apa pun di luar pengumuman dewan.
Latar belakang
Antara melaporkan keputusan dewan itu di tengah latar belakang serangan rudal dan drone Houthi yang terus berlanjut terhadap Arab Saudi. Kolom Al-Rashed menggambarkan konflik yang lebih luas, di mana Iran dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya menghadapi front Teluk. Kolom itu merujuk pada periode sekitar 10 bulan sebelumnya ketika Mesir tidak ikut serta. Sumber-sumber yang ada tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai periode sebelumnya tersebut.
Al-Rashed menulis bahwa pemerintahan Presiden Sisi "tidak pernah antusias untuk pergi berperang". Ia berpendapat bahwa konflik di Teluk telah menempatkan Mesir di garis depan, bertentangan dengan keinginannya. Ini merupakan penggambaran dari kolumnis tersebut.
Sumber
Laporan ini ditulis dari sumber di bawah dan diperiksa dengan sedikitnya dua di antaranya.
- Antaraid · 18 Oktober 2026
- Arab Newsen · 18 Oktober 2026
- Al Jazeera Englishen · 18 Oktober 2026
- Antaraid · 18 Oktober 2026
- Al Jazeera Englishen · 18 Oktober 2026
- The New Araben · 18 Oktober 2026
AIDisusun dengan bantuan AI dari sumber di bawah.Cara kami menggunakan AI
Menemukan kesalahan?